Oleh: Heriwiyanti

Ketua PII Haltim

Urusan literasi seharusnya sudah tuntas di bangku sekolah, namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Literasi tidak sekadar kebiasaan atau budaya membaca, melainkan fondasi utama yang mampu mencerdaskan masyarakat di seluruh lini kehidupan.

Literasi tak hanya soal kita menyelami seberapa banyak lembar buku, melewati setiap lembar dan halaman. Atau melatih untuk cakap berhitung, tapi literasi lebih dari itu semua.

Literasi punya daya dobrak yang kuat, bisa membuka alam cakrawala yang kaku, menguba kebodohan jadi kepintaran. Sebagai jendela dunia, buku menjadi batu asa mempertajam pikiran, memperkuat analisa, mengasah daya ingat, memperhalus rasa dan karsa manusia.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik—mulai dari mendirikan gedung, mempercantik jalan, hingga mengejar pertumbuhan ekonomi—ada hal mendasar yang tidak boleh terlupakan, yaitu membangun literasi, utamanya di bumi tempat berpijak, Halmahera Timur.

Di balik seluruh proyek pembangunan tersebut, ada manusia yang harus disiapkan untuk memahami, mengelola, serta melanjutkan peradaban.

Perpustakaan bukanlah gudang penyimpanan buku kaku, melainkan ruang vital untuk menumbuhkan pikiran, membentuk karakter, dan membuka jalan belajar sepanjang hayat.

Tanpa perhatian yang layak terhadap gerakan literasi, perpustakaan akan kehilangan peran strategisnya dan berjalan tanpa arah; buku-buku hanya tersusun di rak tanpa pernah menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat. Hanya jejeran kupulan tulisan tanpa makna.

Seorang pemimpin tidak berhak mengklaim dirinya visioner apabila mengabaikan gerakan literasi di daerahnya. Sebagaimana gagasan Ruslan Ismail Mage yang diabadikan dalam Ensiklopedia Sang Penggerak Pemikiran Inspiratif Ruslan Ismail Mage, perpustakaan dimaknai sebagai salah satu kepingan surga yang jatuh ke bumi.

Tempat tersebut menjadi ruang bagi manusia untuk menemukan pengetahuan, membuka pikiran, menumbuhkan harapan, serta merancang masa depan dan menemukan jati diri seutuhnya.

Sebuah pengingat tajam menegasankan bahwa daerah yang mengabaikan gerakan literasi akan dilaknat oleh peradaban. Dilanda kebodohan.

Pembangunan daerah tidak hanya diukur dari apa yang kasat mata, melainkan dari investasi jangka panjang yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian: lahirnya manusia yang gemar membaca, berpikir, berilmu, dan berakhlak.

Jangan biarkan bangunan perpustakaan sekadar berdiri sebagai benda mati, tetapi hidupkanlah sebagai jantung gerakan literasi dan titik awal peradaban**